Tags

, , , ,


Ketika menyiapkan laporan keuangan semua data yang relevan harus dicatat dalam satu mata uang/valas. Namun apa yang terjadi jika perusahaan beroperasi di lebih dari satu negara? Bagaimana kita menjurnal untuk transaksi valuta asing?
Ada dua isu dalamĀ  membaca mata uang asing:

  1. Ketika hutang, piutang dan item moneter lainnya terdiri dalam berbagai mata uang kita harus mengubahnya menjadi mata uang tunggal
  2. Ketika sebuah perusahaan beroperasi di luar negeri kita harus menerjemahkan laporan keuangan ke dalam mata uang bersama sebelum masa konsolidasi

Ketika sebuah perusahaan melakukan transaksi asing maka perlu mematuhi prinsip akuntansi yang berlaku umum terkait dengan transaksi penukaran mata uang asing. Kesepakatan aturan yang paling penting adalah mata uang fungsional perusahaan dalam pencatatan transaksi dan nilai tukar saat ini.

Mata uang fungsional adalah mata uang dimana perusahaan menjalankan bisnis utamanya. Fakta-fakta dari setiap situasi akan menentukan mata uang fungsional perusahaan. Aturan umum praktis adalah, apapun mata uang bisnis biasanya akan menggunakan/dikonversi ke dalam mata uang fungsional perusahaan. Sebagai contoh, Amerika Serikat bisnis melakukan sebagian besar transaksi dalam dolar AS. Kadang-kadang, perusahaan akan melakukan transaksi dalam euro. Mata uang fungsional akan menjadi dolar AS.

Perusahaan harus mencatat dua transaksi setiap saat memiliki transaksi pertukaran mata uang asing. Transaksi pertama adalah tanggal sebagai hari perusahaan memasuki transaksi. Sebagai contoh, sebuah perusahaan AS melakukan kontrak dengan sebuah perusahaan Jerman untuk membeli widget untuk 500 euro. Karena mata uang fungsional dari perusahaan AS adalah dolar, perusahaan tidak dapat merekam transaksi dalam euro terhadap laporan keuangan, sehingga harus mengkonversi jumlah tersebut ke dolar dengan kurs saat ini. Langkah kedua adalah ketika perusahaan benar-benar membayar dalam euro. Jika tingkat mata uang asing berubah, akan ada baik keuntungan atau kerugian atas transaksi tersebut.

Beberapa Contoh :

Pada tanggal 1 Februari 2010, PT ABC menandatangani perjanjian untuk meminjam $ 500.000 dari FX ltd. Transfer dana terjadi pada 1 Februari dimana nilai tukar 1 USD = Rp. 9.000. Pinjaman ini adalah 10 tahun dan membutuhkan pembayaran bunga sebesar 5% pada 31 Januari setiap tahun. Pada tanggal neraca (31 January 2011) nilai tukar 1 USD = Rp. 9.200. Maka pencatatan transaksinya :

Dari contoh di atas kita tahu bahwa nilai tukar itu sangat penting. Mengapa? karena entitas pelaporan harus menyampaikan laporan keuanganya dalam kurs fungsional perusahaan (Dalam Contoh di atas dalam IDR/Rupiah), Padahal transaksi yang digunakan dalam USD sehingga sejumlah USD itu harus dilaporkan dengan mengikuti kurs Rupiah-nya di setiap pelaporan dari Balance Sheet-nya.

Rujukan : businessed101.com & ehow.com

About these ads